Faktor-Faktor Penyebab Kecelakaan Lalu Lintas

Kecelakaan kendaraan bermotor di Indonesia telah menyebabkan korban jiwa kisaran 10.000 – 11.000 orang per tahun. Menurut data Kepolisian Nasional pada tahun 2008 dengan sampel tiga provinsi, menghasilkan data bahwa dominasi korban jiwa pada kecelakaan berkendara melibatkan 61% pengendara roda dua atau roda tiga, 15% pejalan kaki, 13% pengendara sepeda, dan 3% pengendara roda empat.

Pada tahun 2014, registrasi mobil dan motor baru di Indonesia mencapai lebih dari 1 juta dan 8 juta. Jumlah total mobil dan motor yang beroperasi di Indonesia lebih tinggi 200% daripada tahun 2004. Sementara total panjang jalan di Indonesia hanya bertambah sebesar 36% dari tahun 2004  hingga tahun 2014. Selama rentang waktu ini, jumlah kecelakaan meningkat hingga 200% dengan total kehilangan materi sebesar 500%. Data selengkapnya dapat dilihat pada jurnal ini

Bahkan dikutip dari CNN Indonesia, jumlah kecelakaan kendaraan yang terjadi di DKI Jakarta sejak bulan Januari hingga Mei 2015 sebanyak 2.392 laporan. Dari jumlah tersebut, kecelakaan terbesar didominasi oleh kendaraan pribadi sejenis minibus sebanyak 532 kasus kemudian kendaraan berat sejenis truk sebanyak 362. Sementara, kendaraan umum yang banyak terlibat kecelakaan adalah taksi dengan total angka kecelakaan mencapai 81 kasus kemudian disusul oleh bus dalam dan antar kota sebanyak 78 kasus sepanjang awal tahun 2015.

Dikutip melalui Merdeka, Pada tahun 2017, jumlah korban jiwa sebanyak 29.810 akibat kecelakaan lalu lintas dan mengalami penurunan pada tahun 2018 yang tercatat sebanyak 27.910. Menurun 6% dibandingkan tahun 2017. Namun, angka kecelakaan lalu lintas mengalami kenaikan. Di Tahun 2018, angka kecelakaan lalu lintas tercatat sebanyak 103.672 kasus. Sementara di tahun 2017 mencapai 101.022 kasus.

Penyebab utama terjadinya kecelakaan, yaitu:

Keterlibatan faktor manusia pada kecelakaan kendaraan bermotor mencapai ±90% meliputi tingkah laku aggresif saat berkendara, tak acuhnya pada peraturan lalu lintas, dan kompetensi yang belum mumpuni untuk mengemudikan kendaraan dibuktikan oleh tidak memiliki tanda kompetensi mengemudikan kendaraan (SIM).

Faktor kendaraan sebesar 4%, umumnya terdapat kerusakan pada rem tidak bekerja dan roda yang sudah tidak layak pakai. Hal ini juga dikarenakan kurangnya perawatan berkelanjutan oleh perseorangan itu sendiri.

Faktor jalan dan lingkungan 3%, meliputi jalan berlubang, tanjakan, turunan terjal, dan jalan berbelok. 

Ada beberapa kemungkinan kenapa manusia bisa menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan lalu lintas. Mari kita simak kemungkinan
berikut:

1. Kebiasaan Saat Berkendara

A. Tingkah Perilaku Agresif Saat berkendara. Terutama bagi pengendara roda dua. Salip-menyalip bagaikan hal yang lumrah terjadi. Padahal perilaku tersebut dapat menjadi penyebab terjadinya kecelakaan, seperti: jatuh, terserempet, atau tabrakan. 

B. Hobi Melanggar Lampu Lalu Lintas. Hobi merupakan salah satu hal yang positif, tapi kalau kebiasaan ini menjadi hobi kamu, lebih baik hindari ya kawan. Pengendara roda dua sering kali terlihat melewati batas marka tidak boleh melintas saat lampu lalu lintas sudah berwarna merah. Mungkin maksud pengendara tersebut agar cepat melaju saat lampu hijau menyala. Padahal kalau diperhatikan, pengendara yang melewati marka stop saat lampu lalu lintas berwarna merah, malah menyebabkan kemacetan. Kenapa? Karena pengendara tersebut cenderung melamun, tidak ada patokan lampu harus jalan kapan dan hanya menunggu klakson dari pengendara di belakangnya sebagai tanda untuk jalan.

Telah banyak kejadian tabrakan antar pengendara bermotor yang melanggar lampu lintas dikarenakan tidak sabarnya pengemudi menunggu atau sedang terburu-buru. Padahal hanya menunggu beberapa detik saja lhoo. 

C. Memaksakan Kehendak. Umumnya para pengendara jarak jauh sering kali memaksakan untuk mengemudi terus-terusan tanpa istirahat karena ingin cepat sampai/ nanggung sudah mau sampai/berkendara sendiri ke tempat tujuan selama 12 jam (misalnya). Padahal mata dan badan sudah letih. Butuh istirahat, karena sebagai manusia sudah wajar merasakan letih dan mengantuk. Tapi tetap saja berkendara hingga tak jarang sekali berujung kecelakaan.

Tahukah kamu? Undang-Undang No.22 Tahunu 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 90 ayat (3), sudah mengatur bahwa pengemudi kendaraan bermotor umum wajib istirahat selama setengah jam setelah berkendara selama empat jam berturut-turut. Pasal tersebut juga menyatakan waktu kerja maksimal pengemudi adalah delapan jam sehari, namun dalam hal tertentu dapat diperpanjang menjadi 12 jam dengan catatan waktu istirahat selama sejam.

Jadi, jika kamu ingin mengemudi selama 12 jam secara aman, kamu bisa berkendara selama 4 jam dan istirahat selama 1 jam selama tiga kali repetisi pola tersebut.

D. Tidak Acuh. Kebiasaan tidak peduli untuk merawat kondisi kendaraan dapat menjadi salah satu penyebab kecelakan yang dikarenakan menurunkan performa kendaraan hingga tidak bekerjanya fungsi sama sekali suatu komponen. Seperti: rem blong, ban gundul, klakson tidak berbunyi, dan lampu (lampu sorot, lampu rem, dan lampu sign) tidak menyala.

2. Tidak Memiliki Kompetensi Mengemudikan Kendaraan Bermotor (SIM)

Surat Izin Mengemudi, mungkin terlihat hanya seperti kartu biasa, tapi sebenarnya SIM merupakan tanda bukti bahwa seseorang dinyatakan telah memiliki kompetensi mumpuni untuk berkendara di jalan. Tidak mudah untuk memiliki SIM, pengendara wajib berusia minimal berumur 17 tahun untuk kendaraan roda dua dan roda empat serta dinyatakan lulus tes teori dan praktik.

Kenapa harus berumur 17 tahun?

  • Karena WNI mendapatkan kartu identitas penduduk (KTP) pada umur 17 tahun.
  • Umur 17 tahun seseorang sudah dianggap dewasa untuk mengambil keputusan dan diberi tanggung jawab.
  • Menurut neuropsikologi, Elizabeth Sowell, bahwa bagian otak remaja yaitu lobus fronta belum berkembang secara sempurna sebelum 17 tahun. Artinya, dalam mengatur perencanaan, pengorganisasian, serta antisipasi masih lemah. Padahal dibutuhkan fokus yang tinggi dan pengambilan keputusan yang tepat saat berkendara. Lobus frontal punya andil besar pada kedua hal tersebut.
  • Mengutip pernyataan Irma Gustiana A, S.Psi., M.Psi seorang psikolog anak dan remaha yang mengatakan bahwa remaha di bawah usia 17 tahun belum mampu melihat jarak dan orientasi ruang dengan baik. 

(sumber: hipwee)

3. Kurang Pengetahuan Tentang Ilmu Lalu Lintas dan Akibatnya Bila Melanggar

Bisa mengemudikan kendaraan bermotor tentu saja belum cukup untuk bisa mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya. Kenapa? Karena di jalan raya ada peraturan-peraturan yang harus dipahami dan patuhi. Perlu diketahui bahwa setiap kali melakukan pelanggaran peraturan akan ada akibat yang didapat. Mulai dari peringatan – penindakan – hingga kehilangan nyawa. Banyak contoh pelanggaran yang dapat dilihat di sekitar kita. Contoh:

a. Tidak Menggunakan Helm. Alasannya karena mengendarai motor hanya ke pasar yang tidak jauh dari rumah. Ingat! Musibah bisa saja datang kapan saja. Jika dalam kasus buruknya, kamu terserempet oleh kendaraan lain dan kamu jatuh. Kepala kamu akan terbentur oleh aspal jalanan. Efek ringannya dari luka lecet hingga kehilangan nyawa. Seperti kasusyang dialami oleh rider saat melakukan Bakti Sosial, rider tersebut meninggal yang diakibatkan gagar otak karena tidak memakai helm sesuai standar setelah terjatuh dari motor. Kamu harus tau kalau Indonesia memiliki standar yang harus dipenuhi saat memproduksi sebuah helm, yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI). Sesuai Pasal 106 ayat (8) UU No. 22/2009 mengatur bahwa: “Setiap orang yang
mengemudikan Sepeda Motor dan Penumpang Sepeda motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia”. Bagaimana jika tidak? 

Yuk klik disini untuk mengetahui apa akibatnya di sini

b. Tidak Mengetahui Arti Marka Jalan. Kamu pasti pernah lihat kan garis putih putus-putus, garis putih panjang, atau kotak kuning (yellow box)? Tapi kamu taukah arti garis-garis tersebut? Nah garis-garis tersebut adalah contoh dari marka jalan. Marka jalan adalah suatu tanda  yang ada di atas permukaan jalan untuk mengarahkan arus lalu lintas dan membatasi daerah kepentingan lalu lintas. 

Contoh: Marka Kotak Kuning (yellow box) berbentuk kotak kuning dengan persilangan di dalam kotak yang berfungsi untuk melarang kendaraan berhenti di area tersebut. Biasanya Marka Kotak Kuning terdapat di area lampu lalu lintas yang mempunyai arus padat/sibuk agar dapat meminimalisir kemacetan. Ketika lampu lalu lintas berwarna hijau, kamu diperbolehkan jalan tapi bila ada antrian di atas yellow box, maka kamu wajib menahan gas kamu sampai tidak ada antrian lagi di atas yellow box tersebut. Jika kamu tetap tancap gas, akan mengakibatkan kemacetan, bisa saja saat kamu masih mengantri tetapi lampu sudah berganti menjadi merah dan waktunya kendaraan dari arah lain jalan. Jika pengendara dari arah lain tidak mengetahui arti marka tersebut, tentu saja akan tancap gas sembari mencari celah untuk melewati antrian yang ada. Hanya akan menambah kemacetan. Arus lalu lintas pun menjadi ruwet. Andaikan masing-masing pengendara mengerti arti marka tersebut, akan lebih sabar untuk menunggu giliran dan kemacetan dapat terhindarkan.

Sekarang sudah tahu akibatnya kan? Ayo mulai dari sekarang sayangi nyawa, waktu, dan dompet kalian agar terhindar dari hal-hal yang tidak
diinginkan. Penting sekali sebagai pengguna kendaraan bermotor dan jalan mengetahui peraturan tentang lalu lintas dan efek serta akibatnya. Dengan hal tersebut, angka kecelakaan dapat ditekan. Kemacetan bisa diminimalisir. Peraturan sudah ada dan sarana terpenuhi. Namun, tetap saja Manusia sebagai penentu yang menjalankan, mengambil keputusan, dan bertindak. Oleh karena itu, tanamkan tata cara keselamatan berkendara di dalam diri kamu sekarang juga agar bisa bertindak tepat. Mari kita mulai kebiasaan baik saat berkendara di jalan. Berawal dari satu individu ke individu yang lain. Sampai pada suatu saat nanti, seluruh pengendara kendaraan bermotor mentaati tata tertib lalu lintas. Akan jarang atau bahkan tidak ada lagi cerita kecelakaan di jalan. 

Leave a Comment